Thursday, May 27, 2010

4 TANDA ORANG TERANGSANG

Mengetahui perubahan apa saja yang terjadi ketika seseorang terangsang berguna untuk mengenali sejauh mana hubungan seksual telah berlangsung, apakah sudah mendekati orgasme atau tidak, dan apakah dapat mencapai orgasme atau tidak. Suatu reaksi seksual yang sempurna berlangsung melalui 4 fase. Reaksi itu terjadi kalau seseorang menerima rangsangan seksual yang cukup. Kalau rangsangan seksual dirasa tidak cukup, maka seseorang tidak akan mengalami siklus reaksi seksual. Tetapi seseorang yang mengalami gangguan fungsi seksual, juga tidak akan mengalaminya meski telah menerima rangsangan seksual yang cukup. Ada pun reaksi seksual yang terjadi pada setiap fase itu adalah sebagai berikut :

Fase rangsangan

Fase ini dimulai bila ada rangsangan seksual, baik fisik maupun psikik. Reaksi yang terjadi pada fase ini dapat cepat atau lambat, tergantung intensitas dan efektivitas rangsangan, kesehatan tubuh, dan pengalaman seksual sebelumnya. Pada perempuan, fase ini ditandai dengan terjadinya perlendiran vagina sebagai akibat bendungan aliran darah pada dindingnya. Perlendiran ini menyebabkan penetrasi penis ke dalam vagina
berlangsung mudah, dan tanpa rasa sakit.

Reaksi lain yang terjadi ialah klitoris mengalami ereksi, yaitu menjadi tegang dan membesar, seluruh bagian vagina melebar tetapi 2/3 bagian dalam lebih melebar dan memanjang, rahim terangkat, bibir besar melebar dan terangkat. Payudara juga membesar dengan puting susu tegang.

Pada pria, reaksi nyata ialah ereksi penis akibat bendungan darah di dalamnya. Buah pelir terangkat, kulit kantung pelir (scrotum) tampak lebih licin. Derajat ereksi penis sangat dipengaruhi oleh intensitas rangsangan dan keadaan fisik. Selain alat kelamin, beberapa bagian tubuh lain juga mengalami reaksi. Denyut jantung dan tekanan darah meningkat, ketegangan otot meningkat, frekuensi pernapasan meningkat, dan pada kulit terjadi
bercak kemerahan (sex flush).

Fase Datar

Pada fase ini, perubahan nyata pada perempuan ialah bendungan aliran darah yang hebat pada dinding vagina 1/3 bagian luar. Reaksi ini disebut orgasmic platform. Akibatnya, vagina 1/3 bagian luar mengalami penyempitan sekitar 30% atau lebih. Sementara vagina 2/3 bagian dalam semakin melebar. Perubahan lain, bagian batang dan kepala klitoris tertarik ke belakang. Perubahan letak ini, ditambah dengan bendungan aliran darah pada dinding bibir kelamin, menyebabkan klitoris sukar dilihat, bahkan sukar disentuh.

Bagian sekitar puting susu yang mulai menegang pada akhir fase rangsangan, akan semakin menegang. Pada 50-75% perempuan terjadi bercak-bercak kemerahan, yang biasanya mulai di ulu hati, menyebar ke payudara dan dinding dada. Bercak ini dapat juga terjadi di bagian tubuh lain, termasuk bokong, punggung, dan wajah.

Pada pria, terjadi sedikit penambahan diameter bagian kepala penis di pangkal, sedang warnanya menjadi lebih tua. Ukuran buah pelir bertambah akibat bendungan aliran darah. Kadang-kadang sedikit cairan keluar dari penis, yang berasal dari kelenjar Cowper sehingga ujung penis basah. Lebih sedikit pria yang mengalami reaksi bercak kemerahan (sex flush). Perubahan pada bagian tubuh lain tetap terjadi, yaitu meningkatnya ketegangan otot, denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan.

Fase orgasme

Bila rangsangan terus berlanjut, maka tercapailah puncak reaksi seksual, yaitu orgasme. Pada saat ini ketegangan seksual dilepaskan secara tiba-tiba. Secara fisik, orgasme merupakan fase tersingkat dalam siklus reaksi seksual. Biasanya hanya berlangsung dalam beberapa detik, yang ditandai dengan kekejangan otot yang bersifat ritmik yang menimbulkan sensasi fisik yang kuat, diikuti relaksasi yang cepat. Kekejangan otot yang ritmik tersebut tidak hanya terjadi pada kelamin, melainkan juga pada seluruh otot tubuh yang lain.

Secara psikik, orgasme merupakan puncak kenikmatan seksual. Peristiwa orgasme bervariasi pada waktu yang berbeda, dan juga bervariasi pada setiap individu. Kadang-kadang orgasme merupakan suatu sensasi yang sangat eksplosif dan luar biasa, tetapi bagi orang lain mungkin merupakan sesuatu yang terjadi dengan tenang dan kurang dramatik. Perbedaan intensitas ini disebabkan oleh beberapa faktor fisik seperti kepayahan dan waktu sejak terjadinya orgasme sebelumnya. Juga disebabkan oleh faktor psikik seperti hubungan pribadi dengan pasangan, dan perasaan pada saat itu.

Tapi sensasi orgasme tak selalu sama dengan kepuasan seksual karena kepuasan seksual menyangkut keterlibatan emosi yang dalam. Pelaku masturbasi dapat orgasme tapi mungkin tak merasakan kepuasan seksual. Pada perempuan, orgasme ditandai dengan kekejangan ritmik pada 1/3 bagian luar vagina, rahim, dan otot sekitar dubur. Tapi sebenarnya reaksi yang terjadi bersifat total seluruh tubuh, tidak terbatas pada alat kelamin dan sekitarnya. Orgasme pada perempuan dapat terjadi berkali-kali asal tetap menerima rangsangan seksual yang cukup. Tetapi sebagian perempuan hanya mencapai sekali orgasme. Pada dinding depan vagina bagian luar terdapat suatu daerah yang disebut G spot. Rangsangan pada G spot menimbulkan orgasme yang berbeda dibandingkan dengan rangsangan pada klitoris. Sebagian perempuan yang menerima rangsangan pada G spot mengalami orgasme yang disertai "ejakulasi". Tapi tentu saja cairan yang keluar bukanlah sperma seperti yang terjadi pada pria saat ejakulasi.

Cairan yang dikeluarkan ketika perempuan "ejakulasi" diduga berasal dari kelenjar Skene di sekitar urethra (saluran kencing). Karena itu cairan "ejakulasi" tersebut dikeluarkan melalui saluran kencing. Tetapi cairan tersebut bukanlah air kencing. Pada umumnya pria dengan mudah dapat mencapai orgasme. Orgasme pria mudah dirasakan pasangannya sebab terjadi bersama ejakulasi. Sebenarnya orgasme dan ejakulasi adalah 2 peristiwa yang berbeda. Pada keadaan tertentu, orgasme dapat terjadi tanpa ejakulasi.

Anak-anak, misalnya, dapat mengalami orgasme tanpa ejakulasi, karena sperma memang belum diproduksi. Sebaliknya, ejakulasi dapat terjadi tanpa sensasi orgasme, misalnya karena gangguan syaraf. Pada umumnya pria hanya mampu mencapai 1 kali orgasme. Setelah itu pria akan memasuki periode refrakter di mana pria seolah-olah kebal terhadap rangsangan dan tak dapat mencapai orgasme dan ejakulasi lagi. Periode refrakter dipengaruhi oleh usia, keadaan kesehatan tubuh, dan rangsangan seksual yang diterima.

Tapi pria dapat orgasme lebih dari sekali kalau mampu mengontrol agar ejakulasi tidak terjadi. Jadi sebelum ejakulasi, orgasme dapat dicapai lebih dari satu kali.Perubahan-perubahan pada bagian tubuh lain tetap terjadi, yaitu meningkatnya ketegangan otot, denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan.

Fase Resolusi

Selama fase resolusi, alat-alat kelamin dan bagian tubuh lain mengalami perubahan, dan kembali ke keadaan semula Acapkali pada fase terakhir ini terjadi reaksi berkeringat yang dapat terjadi pada seluruh tubuh.

Dengan mengenali berbagai perubahan yang terjadi selama siklus reaksi seksual, dapat diketahui hubungan seksual berlangsung harmonis atau tidak.

0 comments:

Post a Comment